Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Quarter Life Crisis

quarter life crisis . pernah denger kata-kata gahul ini gak? wkwk, gak gahul sih yaa normal normal aja. . pertama kali denger ini dari bukunya kak @kurniawangunadi dkk yang berjudul "Bertumbuh" bagus sih, banget. Dan bener bener lagi merasakan apa itu quarter life crisis. . udah lamaaaaa banget vakum dari dunia per-analisis-an, maklum orangnya apa apa bisa jadi bahan analisis. Nah, pada bulan desember habis disentil bukan deng tapi lebih diingetin sama apa itu quarter life crisis yang sebenarnya. . malam itu, aku diberi suatu postingan dari teman saya yang sedang membahas qlc itu. yang aku ingat banget perumpamaannya itu gini, ketika aku dan banyak temenku samasama mau berpergian dari Bandung-Bali misalnya, kita semua bebas mau pake cara apa untuk sampai ke tujuan kita. Tergantung mau pilih segi ekonomi, segi kenyamanan, segi waktu, atau pertimbangan lain. temen-temen yang pingin ngirit tentu mau naik transport umum yang murah aja, bis misalnya. Nah yang pengen cep...

Mata Uang Dinar dan Dirham

Pada zaman dahulu, mata uang yang digunakan sebagai alat jual beli setelah sistem barter terupdate adalah dinar dan dirham. Yup, pada zaman itu mata uang yang berlaku adalah kepingan logam perak dan emas yaitu dinar dan dirham. . Sedikit flashback, saya sendiri terinspirasi untuk mencari tahu "dinar dan dirham" dari bulan lalu, saat saya menghadiri pernikahan temanku lalu kita berdiskusi mengenai ini. Ingin tahu lebih lanjut kemudian saya mencari tahu sendiri dan saya menemukan sebuah titik pembahasan penting. . Dari video Ust. Zulkifli Ali yang membahas mengenai kiamat atau akhir zaman, beliau berpesan untuk mulai menabung emas dan perak. Karena, pada akhir zaman nanti ketika semua teknologi sudah tidak berfungsi dan zaman ini kembali pada zaman terdahulu yang serba sederhana. Tidak ada lagi mobil, motor, mesin, handphone, internet, atm dll semuanya tidak ada. Semua kembali kepada kuda, bercocok tanam, beternak, dll. . Intinya, mata uang kertas yang berlaku sekarang se...

Sanang-Sinawang

dua kalimat yang sering terdengar, terbaca dan terlihat pada suara, buku, bacaan maupun postingan teman-teman. . sejatinya memang hidup kita yang menjalani, sedih, bahagia, susah, senang dan segala perasaan yang dirasa juga kita sendiri yang menjalani. aku rasa betul itu. . ketika memandang kehidupan orang lain memang rasanya seperti melihat keatas, selalu ada awan di atas awan yah, yaa itu memang kodratnya demikian. "rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, right?" dan peribahasa lain. Melihat keluar, selalu bercampur perasaan ingin seperti A, ingin seperti B. Merasa kehidupan si A dan si B lebih baik dari kita. Padahal, belum tentu justru mungkin kita lebih beruntung. . Kadang-kadang iri, duh si A udah punya ini, si B udah itu aku sendiri tidak punya atau belum punya. Tapi sebenernya bukannya disitu sebenarnya letak bersyukur itu? Mensyukuri nikmat dan karunia yang ada, gapapa aku belum punya kaya A, berarti aku harus nabung biar beli kaya A, terus aku jadi r...