Disini, aku menuliskan cerita yang mungkin akan aku baca beberapa tahun lagi. Aku berharap, suatu saat disaat tulisan ini aku baca kembali beberapa tahun yang akan datang, cerita yang sedang aku alami sekarang sudah berubah, sudah memasuki episode selanjutnya, yang lebih baik dengan keadaan yang sudah lebih baik juga dari sekarang.
Sebagai aktor dalam film yang aku bintangi sendiri, menjadi pemeran utama dalam drama kehidupan singkat didunia ini sering kali menjumpai scene-scene yang tidak aku sukai tapi aku harus profesional bukan? Meskipun aku tidak suka, aku harus tetap melakukan peran itu. Yup, tidak apa apa supaya ceritanya jalan, tidak flat dan supaya ter-connect-ing dengan ending yang bahagia.
Sudah lama tidak bersua, rasanya aku sedang sedih dan bahagia sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Aku bahagia sekali karena diujung-ujung masa perkuliahanku di Bandung yang sudah hampir 4 tahun ini aku bertemu teman teman yang begitu baiknya kepadaku. Mereka menjadi sahabat dalam suka dan dukaku, bahagia sekali rasanya bersama mereka. Melakukan kegilaan dan kebodohan bersama-sama yang berujung pada canda dan tawa. Sesederhana itu aku bahagia dalam hari-hariku yang hanya begitu-begitu saja.
Sedih, sedih sekali karena episode setelah ini adalah episode perpisahan. Aku tau, setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan, dan aku tidak suka perpisahan. Tapi kan tetap harus terjadi, harus lulus dan harus meninggalkan Bandung nantinya. Aku bertanya-tanya, apakah nanti ditempat yang baru aku akan bertemu dengan orang orang seperti kalian? Bagaimana kalau ditempat baruku nanti aku bertemu dengan orang jahat? Pada fase itu adalah fase kehidupan sesungguhnya akan dimulai, mau menapaki masa depan seperti apa yang akan aku pilih? melanjutkan pendidikan? mencari pekerjaan? atau menjadi pengangguran? Pertanyaan ini mungkin akan terjawab beberapa tahun lagi dan aku akan senyum-senyum sendiri membaca tulisan ini.
Semua yang akan terjadi bergantung kepada usaha sendiri, bagaimana aku bekerja keras terhadap semua hal yang ingin aku dapatkan didunia ini, dimasa depanku Sebenarnya aku takut, bahkan sangat takut. Merasa aku masih anak kecil tapi ternyata aku sudah 22 tahun. Tapi bukankah masa depan itu Biyadillah? bukankah masa depan itu milik Allah ? Bukankah massa depan itu Allah yang punya? Jadi mengapa aku harus takut? Bukankah rezeki setiap umat manusia Allah yang mengatur? Bukankah rezeki itu Allah yang jamin? Bahkan setiap rezeki tidak akan hilang, tidak akan tertukar. Apabila kamu lari dari rezeki, rezeki yang akan mengejar kita seperti maut mengejar kita.O Allah aku percaya atas semua rencana-Mu adalah sebaik-baiknya rencana yang ada, rencana-Mu lah yang terbaik daripada rencanaku.
Mimpi, tentang mimpi yang sudah aku buat sedari 5 tahun yang lalu, yang aku tempel erat erat di dinding kamarku sewaktu umurku 17 tahun. Saat itu aku juga sedang mengalami ketakutan yang sama. Tapi aku yakin, aku selalu yakin dan percaya, manusia hanya harus berusaha saja. Selebihnya itu rencana Tuhan, karena Tuhan begitu baiknya kepada kita. Dia selalu mengabulkan apapun yang aku minta dan yang tidak aku minta. Dia selalu mencukupkan kekuranganku, Dia pula yang menemaniku disaat aku kesepian dan merasa sendiri, Dia yang memberiku kekuatan disaat aku lemah, Dia yang memberikanku ketenangan disaat aku takut, Dia yang memberikan semua-muanya yang aku butuhkan...
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo'a apabila ia mendo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)
Sebagai aktor dalam film yang aku bintangi sendiri, menjadi pemeran utama dalam drama kehidupan singkat didunia ini sering kali menjumpai scene-scene yang tidak aku sukai tapi aku harus profesional bukan? Meskipun aku tidak suka, aku harus tetap melakukan peran itu. Yup, tidak apa apa supaya ceritanya jalan, tidak flat dan supaya ter-connect-ing dengan ending yang bahagia.
Sudah lama tidak bersua, rasanya aku sedang sedih dan bahagia sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Aku bahagia sekali karena diujung-ujung masa perkuliahanku di Bandung yang sudah hampir 4 tahun ini aku bertemu teman teman yang begitu baiknya kepadaku. Mereka menjadi sahabat dalam suka dan dukaku, bahagia sekali rasanya bersama mereka. Melakukan kegilaan dan kebodohan bersama-sama yang berujung pada canda dan tawa. Sesederhana itu aku bahagia dalam hari-hariku yang hanya begitu-begitu saja.
Sedih, sedih sekali karena episode setelah ini adalah episode perpisahan. Aku tau, setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan, dan aku tidak suka perpisahan. Tapi kan tetap harus terjadi, harus lulus dan harus meninggalkan Bandung nantinya. Aku bertanya-tanya, apakah nanti ditempat yang baru aku akan bertemu dengan orang orang seperti kalian? Bagaimana kalau ditempat baruku nanti aku bertemu dengan orang jahat? Pada fase itu adalah fase kehidupan sesungguhnya akan dimulai, mau menapaki masa depan seperti apa yang akan aku pilih? melanjutkan pendidikan? mencari pekerjaan? atau menjadi pengangguran? Pertanyaan ini mungkin akan terjawab beberapa tahun lagi dan aku akan senyum-senyum sendiri membaca tulisan ini.
Semua yang akan terjadi bergantung kepada usaha sendiri, bagaimana aku bekerja keras terhadap semua hal yang ingin aku dapatkan didunia ini, dimasa depanku Sebenarnya aku takut, bahkan sangat takut. Merasa aku masih anak kecil tapi ternyata aku sudah 22 tahun. Tapi bukankah masa depan itu Biyadillah? bukankah masa depan itu milik Allah ? Bukankah massa depan itu Allah yang punya? Jadi mengapa aku harus takut? Bukankah rezeki setiap umat manusia Allah yang mengatur? Bukankah rezeki itu Allah yang jamin? Bahkan setiap rezeki tidak akan hilang, tidak akan tertukar. Apabila kamu lari dari rezeki, rezeki yang akan mengejar kita seperti maut mengejar kita.O Allah aku percaya atas semua rencana-Mu adalah sebaik-baiknya rencana yang ada, rencana-Mu lah yang terbaik daripada rencanaku.
Mimpi, tentang mimpi yang sudah aku buat sedari 5 tahun yang lalu, yang aku tempel erat erat di dinding kamarku sewaktu umurku 17 tahun. Saat itu aku juga sedang mengalami ketakutan yang sama. Tapi aku yakin, aku selalu yakin dan percaya, manusia hanya harus berusaha saja. Selebihnya itu rencana Tuhan, karena Tuhan begitu baiknya kepada kita. Dia selalu mengabulkan apapun yang aku minta dan yang tidak aku minta. Dia selalu mencukupkan kekuranganku, Dia pula yang menemaniku disaat aku kesepian dan merasa sendiri, Dia yang memberiku kekuatan disaat aku lemah, Dia yang memberikanku ketenangan disaat aku takut, Dia yang memberikan semua-muanya yang aku butuhkan...
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo'a apabila ia mendo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)
Komentar
Posting Komentar